Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyakit. Tampilkan semua postingan

6 Cara Mengatasi Kaki Bengkak Ibu Hamil

Written By ghghghgh on 21/04/15 | 20.32

Menemukan kaki bengkak saat kehamilan, mungkin bukan hal yang aneh. Bahkan hampir semua wanita yang pernah hamil, pernah merasakan hal ini.


"Kaki mengalami bengkak saat hamil kerap dianggap sesuatu yang wajar."

Padahal, jika dibiarkan, akan bisa berakibat fatal. Karenanya, gunakan saja flat shoes dan rajin merendam kaki dengan air hangat merupakan cara termudah untuk mengurangi dampak kaki bengkat akibat hamil ini.


Ada 2 Macam Kaki Bengkak pada Ibu Hamil.
1. Fisiologis (normal).
2. Patologis (adanya kelainan).

Untuk yang fisiologis, biasanya terjadi pada trisemester ketiga. Ketika berat kehamilan semakin bertambah. Sementara untuk patologis, merupakan dampak dari preeklampsia atau keracunan kehamilan. Kondisi ini sering disebut toksemia, yaitu kondisi yang biasa dialami setiap wanita hamil tapi tsk terjadi pada wanita yang tak hamil.

Enam Cara Mengatasi

Pembengkakan kaki yang wajar tidak disertai dengan penyakit penyerta. Dimana keadaan tubuh lainny normal-normal saja dan hanya kaki yang mengalami bengkak. Hal ini banyak terjadi pada kehamilan wanita pada trimester akhir.

Jika ini yang Anda alami, cobalah jangan panik dahulu, Anda bisa melakukan beberapa perawatan sendiri untuk membantu mengurangi bengkak yang terjadi. Berikut ada enam hal yang patut dicoba untuk mengatasinya.

1. Hindarilah memakai sepatu sempit dan bertumit tinggi.
Ini akan memudahkan Anda untuk bergerak serta mengurangi tekanan pada otot kaki.

2. Istirahatlah yang cukup.
Manfaatkan waktu untuk segera beristirahat begitu ada kesempatan. Apabila beristirahat dengan posisiduduk, maka kedua kaki diletakkan pada posisi lebih tinggi sejajar panggul, putar pergelangan kaki agar sirkulasi lancar.

3. Saat bekerja, jangan terlalu lama berdiri atau duduk.
Ambil periode berjalan dan sering gerakkan pergelangan kaki.

4. Jika berbaring, ganjal kaki dengan bantal agar posisi kaki lebih tinggi dan tekanan berkurang.
Jangan terlalu lama berdiri dan duduk dengan posisi kaki menggantung, lakukan gerakan atau berjalan sebentar.

5. Makan minumlah dengan cukup, tinggi kalori dan protein.
Kurangilah mengkonsumsi garam atau makanan asin.

6. Ambil kesempatan untuk berolahraga, seperti senam hamil dan jogging.
Untuk melancarkan sirkulasi darah, rendam kaki ke dalam air hangat yang dibubuhi sedikit garam dan jeruk nipis selama 10-15 menit. 
20.32 | 0 komentar

3 Penyebab Penyakit Korengan

Written By ghghghgh on 11/04/15 | 20.23

Alergi terhadap makanan dan bekas gigitan nyamuk ternyata bisa jadi pemicu munculny infeksi kulit pada balita. Dampak dari infeksi kulit inilah yang menimbulkan koreng pada buah hati Anda.

Di antara penyakit yang perlu diwaspadai pada bayi dan balita adalah penyakit korengan. Penyakit yang satu ini adalah penyakit yang kerapkali menyerang bayi maupun anak sehingga hal itu perlu diantisipasi oleh setiap orang tua. Oleh karena itu, pencegahan terhadap penyakit korengan ini perlu dilakukan sejak dini.

Penyebab Korengan

Masalah penyakit korengan pada bayi pada dasarnya bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya adalah sebagai berikut:
  • 1. Alergi.
  • 2. Gigitan serangga.
  • 3. Faktor lingkungan.
Selain disebabkan karena si anak alergi dan karena gigitan serangga, juga bisa disebabkan karena faktor lingkungan yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit korengan sehingga anak harus selalu dalam keadaan bersih dari kotoran.

Untuk mengatasi penyakit korengan pada bayi, tentunya harus disesuaikan dengan faktor atau penyebab timbulnya penyakit tersebut.

Karena Alergi
Penyakit korengan yang disebabkan oleh alergi, seperti alergi makanan susu formula, maka cara mengatasinya adalah dengan menghindarkan anak dari makanan tersebut. Bagaimanapun juga, makanan ASI pada anak jauh lebih baik daripada susu formula. Jadi kalau sudah diketahui anak itu alergi terhadap susu, maka hendaknya ia tidak diberi susu formula, lebih baik dengan ASI.

Dengan menghindarkan anak dari makanan yang membuat alergi itu, maka penyakit korengan akan sembuh dengan sendirinya. Kecuali jika gatal-gatal tersebut terus digaruk sehingga menimbulkan infeksi.

Karena Gigitan Serangga.
Untuk penyakit korengan yang disebabkan oleh gigitan nyamuk, hendaknya juga perlu diwaspadai dengan baik. Dalam hal ini, nyamuk biasanya selalu bikin kesal dan sangat mengganggu tidur anak-anak, terutama bayi.

Gigitan nyamuk mengakibatkan rasa gatal dan terkadang perih serta menyebabkan kulit bentol. Bagi kebanyakan orang, bekas gigitan nyamuk akan menyebabkan koreng. Karena itu, orang tua hendaknya selalu berhati-hati dengan gigitan nyamuk.

Cara mengatasinya, jika anak sudah tergigit nyamuk, maka hendaknya jangan digaruk, apalagi sampai terjadi luka karena garukan. Sebab, menggaruk bekas gigitan nyamukdapat menyebabkan infeksi kulit dan memperlambat waktu penyembuhan serta makin menambah rasa gatal. Setelah rasa gatal semakin melekat, maka bekas gigitan nyamuk akan lecet dan menimbulkan koreng pada kulit.

Selain dengan menghindarkan anak dari gigitan nyamuk dan makanan yang bisa membuatnya alergi, kebersihan lingkungan juga perlu menjadi perhatian penting orang tua. Biasakan anak selalu berada di tempat yang bersih dan ketika kotor, segera dibersihkan. Sebab lingkungan kotor sangat rawan penyakit, termasuk penyakit korengan yang bisa menyerang kapan saja. 
20.23 | 0 komentar

3 Penyebab Sariawan dan Cara Menghindarinya

Written By ghghghgh on 31/03/15 | 20.10

Sariawan adalah sebuah luka terbuka di dalam mulut yang bisa menimbulkan rasa nyeri, terutama sekali pada saat mulut digerakkan misalnya untuk berbicara maupun untuk mengunyah makanan. Penyakit sariawan ini akan hilang dengan sendirinya kurang lebih selama dua minggu setelah sakit pertama kali dirasakan oleh pasien.



Sariawan disebut juga dengan canker sores, ulkus afiosa, seriawan, atau stomatitis aftosa sangatlah mengganggu penderitanya meskipun sebenarnya bukanlah penyakit yang serius.

Pernahkah kalian mengalami sakit ini, namun setelah diobati tapi beberapa hari kemudian muncul kembali sakit sariawan. Sebenarnya apa yang menjadi penyebabnya kok bisa sering muncul hal seperti ini.


3 Penyebab Sariawan

Sariawan itu sebenarnya disebabkan oleh tiga hal ini.
  1. Alergi.
  2. Hormonal.
  3. Stres.

Alergi.

Jika disebabkan oleh alergi, maka cara menghindarinya adalah dengan cara menghindari pencetus timbulnya alergi, seperti debu, suhu yang dingin, atau makanan seperti nanas, pisang, tergantung dari pencetus alergi tersebut.

Hormonal.
Hormonal ini biasanya terjadi pada wanita, dan jika penyebabnya adalah hormonal itu berhubungan dengan siklus haid atau menstruasi pada wanita.

Stres.
Dan jika stres, cara menghindarinya adalah dengan cara manajemen stres, managemen hati, menikmati semua pekerjaan yang kita jalani sehari-hari dan selalu berpikir positif terhadap semua hal yang terjadi, disertai dengan istirahat yang cukup. 
20.10 | 0 komentar

Kisah Nyata Pengalaman Terkena Serangan Jantung Ringan

Written By ghghghgh on 21/03/15 | 07.53

Banyak orang mengenal serangan jantung seperti yang digambarkan dalam film atau sinetron, yakni mata mendelik, dada sesak, dan tangan memegangi dada ketika pingsan.

Padahal, adakalanya rasa sakit tidak mengikuti pola tertentu, bahkan tanpa diikuti rasa nyeri dada.

Simak kisah serangan jantung seperti yang dialami M Latief (38). Jurnalis yang memiliki hobi naik gunung ini mengalami serangan jantung ringan dengan gejala mirip masuk angin. Inilah pengalamannya.


Serasa baru selesai joging jarak jauh, keringat seketika mengucur deras dari kening, leher, dan sebagian badan saya. Anehnya, itu keringat dingin, bukan hangat. Dingin sekali.

Sedetik keringat menderas, tiba-tiba dada juga terasa sesak, diikuti tengkuk hingga bahu yang menegang. Fun City, tempat permainan anak Margo City, Depok, tempat saya berdiri itu, seperti pelan-pelan menyempit, mengimpit.

Pikiran saya mulai kalut. Maklum, baru kali ini mendadak kondisi badan drop secepat itu dengan tanda-tanda yang aneh, tak biasanya.

Ketika itu, rasa sesak di dada semakin menjadi. Awalnya memang sesak biasa, tetapi perlahan-lahan makin terasa nyeri, seperti diremas-remas dengan keras, bahkan lebih dari itu, seperti diinjak-injak. Napas makin sulit.

"Aneh, kok begini," batin saya.

Maklum, perubahan kondisi tubuh mendadak seperti ini baru saya alami. Rasanya seperti masuk angin, tetapi anehnya bukan seperti masuk angin biasa. Lebih dari masuk angin.

Pelan-pelan saya coba bernapas. Keringat makin deras. Kaki juga mulai lemas.

Ada sekitar hampir tiga menit perubahan aneh itu berlangsung pada diri saya. Saya lalu panggil kedua anak saya.

"Abang, adik, ayo udahan dulu mainnya. Dada ayah sesak, ayah mau ke dokter sekarang. Nanti kalau ketemu ibu, kamu bilang ke ibu ya, Bang, dada ayah sesak dan keluar keringat dingin," kata saya kepada kedua putra saya, Azka (9) dan Azzam (5).

Sebelum kejadian itu, istri saya memang izin pergi sejenak ke toilet. Hanya saya yang menemani kedua anak saya di tempat hiburan di lantai dasar pusat belanja tersebut. Namun, tak sampai lima menit istri saya pergi, kejadian itu berlangsung.

Saya dan kedua anak saya pun bergegas ke lantai satu, menyusul istri saya. Prinsip saya, jalan pelan-pelan dan usahakan tetap sadar atau tidak pingsan. Otak saya hanya memerintah untuk selekasnya ke rumah sakit.

Hanya dituntun dua bocah berumur belum genap 10 tahun, saya cuma bisa pasrah. Sambil menahan sesak, saya berjalan pelan-pelan dituntun kedua anak saya. Azka di kiri, Azzam memegang tangan kanan.

Saya tak menghiraukan ramainya pusat belanja ini. Meskipun kepala tidak terasa pusing, kaki saya lemas sehingga saya harus pelan-pelan mengikuti langkah kedua anak saya. Bahkan, dengan berusaha tetap tenang, kami bisa melewati eskalator menuju lantai satu.

"Lho, kamu kenapa? Kok dingin banget? Kamu masuk angin nih kayaknya," kata istri saya, setelah kami bertemu dengannya.

Azka, anak saya yang nomor satu memotong. "Dada ayah sesak, keringatnya dingin Bu, ayah minta ke dokter," ujar Azka.

Saya masih sadar, tetapi saya memang sudah tak mau bicara apa-apa. Dada saya makin sesak. Karena itu, saya biarkan anak saya yang bicara untuk menghemat energi supaya tidak pingsan.

"Kamu masuk angin nih. Ya sudah, kita pulang sekarang saja ya," kata istri saya.

"Enggak, ini aneh. Rumah sakit... ke rumah sakit sekarang," kata saya.

"Kok ke rumah sakit. Pulang aja ya. Kamu tunggu dan duduk di sini, aku beli minyak angin dulu," jawab istri saya.

Nyaris, marah saya meledak. Tetapi saya sadar, marah hanya akan menguras energi. Jadi, saya acuhkan ucapan istri saya.

Saya juga tak mau duduk, tetapi tetap berdiri sembari berpegangan pada dinding mal. Pikir saya, duduk hanya akan bikin sesak di dada semakin parah.

Setengah berlari, istri saya kembali menghampiri. Dia baru selesai dari apotek.

"Kamu masuk angin nih, sini aku olesin dada kamu. Punggungnya juga sini," kata istri saya.

Saya diamkan istri saya berbuat demikian. Tetapi, hati saya makin kuat bahwa ini bukan masuk angin. Entah, feeling saya bilang lain.

"Sekarang ke rumah sakit. Cari taksi sekarang. Ini jantung, jantung," bentak saya.

Tanpa banyak cakap, kami berempat bergegas ke luar pusat belanja. Dari tempat kami berdiri, gerbang mal ini masih sekitar 200 meter.

Rasanya, sudah lebih dari lima menit perubahan aneh pada kondisi badan saya ini berlangsung. Saya sadari itu. Maka, pelan-pelan kami berjalan melewati kerumunan. Saya dituntun kedua anak saya di kiri dan kanan. Istri saya berjalan di belakang untuk menahan punggung saya.

"Itu taksi," kata istri saya, beberapa meter di pintu gerbang.

"Pak, ke rumah sakit ya, yang paling dekat," ujar istri saya.

Taksi langsung meluncur. Namun, baru sesaat masuk ke jalan raya, panik mulai melanda. Bukan apa-apa, dada saya makin sesak. Dashboard taksi ini seperti mengimpit. Badan saya juga makin lama semakin lemas.

"Tuhan... saya ingin sampai lebih dulu ke rumah sakit, jangan dulu biarkan saya mati," batin saya terus berkata demikian di antara istigfar saya di mulut.

Doa saya terkabul. Saya sadari itu meskipun mata saya terpejam menahan sakit di dada. Pasalnya, Jalan Margonda Raya yang biasanya macet pada hari libur, siang itu nyaris lengang. Hari itu, Kamis, 29 Mei 2014, adalah hari libur Kenaikan Isa Almasih.

Tak sampai 10 menit, saking ngebutnya, taksi sudah berbelok ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, tak jauh dari Terminal Depok.

Tiba di UGD, semangat saya kembali muncul. Saya keluar dari taksi sendiri tanpa dibantu sopir taksi. Saya berjalan pelan-pelan, dan tetap diapit kedua anak saya serta istri saya yang menahan bahu saya dari belakang.

"Dada sesak, keringat dingin," ujar istri saya ke petugas UGD yang datang membuka pintu sembari menyorongkan tempat tidur.

Saya ingat betul, saat itu saya langsung diminta duduk di tepi tempat tidur dan diminta diam sebentar.

"Angkat lidahnya, Pak, telan ini dan habiskan," ujar seorang petugas sembari memasukkan obat berbentuk bubuk ke balik lidah saya.

Sekonyong-konyong, selesai melumat obat tersebut, nyeri di dada saya perlahan menghilang. Petugas pun meminta saya berbaring, dan kemudian memasangkan selang oksigen ke hidung saya. Tangan kiri saya pun lantas diberi cairan infus.

Memang, meskipun rasa sesak di dada belum hilang, nyerinya sedikit berkurang. Untuk itulah, saya diminta lagi untuk menghabiskan obat yang juga sudah disiapkan oleh seorang suster.

Ada tujuh butir obat disorongkan suster itu kepada saya. Sambil membawa segelas air, dia meminta saya selekasnya minum obat tersebut.

"Habiskan, Pak," ujarnya.

Hanya lima menit seusai menenggak habis ketujuh obat itu, nyeri di dada saya hilang seketika. Tak ada lagi sesak, apalagi nyeri. Suhu tubuh saya pun mulai berubah menjadi hangat.

Seorang dokter muda, dokter jaga di UGD, tampak menghampiri saya. Ia bilang, tujuh obat itu adalah obat jantung.

"Bapak kena serangan jantung ringan. Terlambat lima menit saja, mungkin Bapak sudah enggak ada lagi. Baiklah, Bapak kami rawat di sini ya," ujar dokter muda tersebut.

Saya cuma mengangguk lemah. Dari balik pintu UGD, saya lihat Azka dan Azzam, melambai-lambaikan tangan ke arah saya sembari tersenyum. Kedua "pahlawan" saya itu tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan, termasuk istri saya yang repot ke sana kemari mengurus perawatan selanjutnya.


Pembengkakan jantung


Hari ini, Kamis (5/6/2014), tepat seminggu lalu serangan jantung ringan itu terjadi, kondisi saya sudah berangsur pulih dan semakin baik setelah dirawat selama enam hari di RS Mitra Keluarga. Vonis dokter, saya harus mengurai kembali pola hidup sehat agar kejadian itu tak lagi terulang.

Saya tak punya riwayat jantung. Saya pun suka berolahraga, terutama joging, meskipun hanya dua kali seminggu. Bahkan, pada umur 38 tahun ini saya masih menyalurkan hobi saya mendaki gunung.

Ya, dua pekan sebelum kejadian ini, saya juga baru pulang mendaki Gunung Gede, Jawa Barat, bersama teman-teman. Saya rutin mendaki gunung setahun satu atau dua kali.

"Bapak memang kelihatan sehat dan banyak orang terkena serangan jantung juga dalam kondisi sehat. Tapi, kemarin itu, saat serangan datang, jantung bapak lemah untuk memompa oksigen. Sekarang, kondisi Bapak sudah membaik, meskipun masih ada pembengkakan. Bapak harus mengubah pola makan dan stop merokok," kata Dr Bona Dwiramajaya H, SpJP, FIHA, yang merawat saya.

Beruntung, penanganan ketika terjadi serangan itu bisa dilakukan secara cepat dan tepat, terutama berkat bantuan istri dan kedua anak saya. Biasanya, dengan gejala umum seperti keringat dingin yang berlebihan, dada sesak dan nyeri, serta tengkuk dan bahu tegang bukan main, waktu-waktu krisis (golden time) kala serangan itu datang, orang masih belum ngeh bahwa itu serangan jantung ringan. Lazimnya, orang berpikir itu adalah masuk angin.

Memang, tak bisa dimungkiri, gejalanya seperti masuk angin, yang dalam bahasa Betawi, sudah kedalon atau akut. Orang sering kali menganggapnya demikian. Bedanya, datangnya sangat tiba-tiba dan berbarengan, mulai dari keringat dingin berlebihan, dada sesak dan lebih nyeri, terasa tegang atau pegal mulai sekitar tengkuk hingga bahu.

Di situlah feeling yang kuat perlu Anda gunakan jika sewaktu-waktu gejala itu menimpa Anda. Pasalnya, Anda sendiri yang merasakannya, bukan orang-orang di sekitar Anda. Maka, camkan bahwa itu bukan masuk angin biasa.

sumber:
health.kompas.com
07.53 | 0 komentar

Welcome Guys

Like Us On Facebook

Total Tayangan Halaman

Ads

Ads